Artikel Yang Lain

danang blog
SEO Stats powered by MyPagerank.Net Web Directory Ping your blog, website, or RSS feed for Free My Zimbio Bloggers - Meet Millions of Bloggers

Jumat, 25 November 2011

Mengapa Mereka Tega Berbuat Sadis?

Sana Sini News - Belakangan ini media gencar memberitakan berbagai kasus pembunuhan yang marak terjadi. Pola pembunuhan pun sudah mengarah pada tindakan nekat yang sadis. Apa sebenarnya yang melatarbelakangi kejadian ini?

Berbagai kasus pembunuhan mewarnai pemberitaan, baik di media cetak maupun elektronik yang terjadi akhir-akhir ini. Pada Februari lalu, ditemukan potongan tubuh di Pantai Teluk Naga, Kampung Garapan, Kabupaten Tangerang.

Sementara pada Agustus, polisi membekuk pelaku pembunuhan mahasiswi Universitas Bina Nusantara, Livia Pavita Soelistio. Livia meregang nyawa di angkot M24 jurusan Srengseng-Slipi. Yang masih hangat lagi adalah tewasnya Raafi Aga Winasya Benjamin, siswa kelas 3 SMA Pangudi Luhur I Jakarta. Raafi tewas karena ditusuk orang tak dikenal, di Shy Rooftop, Kemang, Jakarta, Sabtu (5/11). Kasus pembunuhan yang terjadi bukan hanya jumlahnya yang cukup mengkhawatirkan, namun pola pembunuhannya pun semakin beragam menjurus ke perbuatan sadis.

Hal ini dibenarkan oleh psikiater dr Richard Budiman SpKJ. Dikatakan Richard dari FKUI ini, maraknya kasus pembunuhan yang terjadi merupakan gambaran keprihatinan masyarakat saat ini. Di mana individu telah berani melakukan tindak kekerasan di luar batas kewajaran.

Hal ini sekaligus menggambarkan kadar tingkat kesabaran diri seseorang pun sudah semakin menurun. Ada masalah kecil saja bisa memicu agresivitas. Hal ini sekaligus merefleksikan tingkat toleransi individu yang sudah semakin minim. Bisa dibilang, saat ini banyak orang yang mempunyai karakter temperamental.

“Kalau dilihat, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi masalah ini, di antaranya faktor lingkungan, sikap orangtua, dan keadaan hidup yang susah atau faktor ekonomi,yang semuanya berpeluang menghasilkan tindak kekerasan,” kata Richard kepada SINDO.

Film atau tontonan yang sarat dengan aksi tindak kekerasan juga bisa memicu munculnya sifat ini terhadap anak-anak. Terlebih lagi anak-anak mempunyai kecenderungan sifat imitasi atau meniru. Karena seringnya anak menonton atau bermain game yang sarat dengan aksi kekerasan, dikhawatirkan mereka akan melakukan aksi serupa kepada temannya. Bukan tidak mungkin perilaku buruk tersebut terus mengendap pada diri sang anak hingga mereka dewasa.

Senada dengan pernyataan psikolog A Kasandra Putranto yang miris melihat tingginya angka kriminalitas dewasa ini. Namun, sebelumnya dia menekankan perlunya membedakan pembunuhan yang direncanakan dengan yang tidak. Pada pembunuhan yang direncanakan, pelaku sudah memperhitungkan pembunuhan yang akan dijalankan dan cara menghilangkan bukti. Pembunuhan ini juga sudah jelas motifnya.

Dia juga menegaskan perlunya memperlakukan setiap kasus secara berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata.

“Tingginya angka kriminalitas berhubungan dengan sikap mental. Orang sekarang sulit untuk mengendalikan diri yang akhirnya berujung pada pembunuhan. Bedanya, ada yang melakukannya karena khilaf ataupun lalai, misalnya tabrakan,” kata Kasandra yang membuka praktik di Jalan Pela, Jakarta Selatan ini.
(tty)

0 komentar

Poskan Komentar